Rabu, 21 Agustus 2013

Filled Under:

Puasa, Etos kerja Dan Solidaritas

Sekilas singkat tuturan Prof Dr Azyumardi Azra, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, menjelang Ramadhan, Jum’at 22 Desember 2006 dalam percakapan dengan Suara Karya, di ruang kerjanya, UIN Jakarta. ** Makna Ramadhan bagi bangsa yang banyak dirundung bencana ini, bahwa Ramadhan menjanjikan rahmat (karunia), maghfirah (ampunan), dan itqun min al-nar (pembebasan dari api neraka), sesungguhnya adalah momentum ideal untuk menemukan solusi bagi berbagai persoalan umat dan bangsa. Aktivitas muraqabatullah (pendekatan diri kepada Allah), ketaatan, kasih sayang, solidaritas dan kepedulian sosial yang terakumulasi selama Ramadhan dan direalisasi di luar bulan ini, mudah-mudahan bisa menjadi salah satu “jalan keluar” bagi problematika negeri ini. Terkait dengan kenyataan-kenyataan pahit sekarang ini – bencana alam, kemiskinan yang terus bertambah dan ketimpangan sosial yang semakin menjadi-jadi. Ramadhan harusnya dipergunakan sebaik-baiknya untuk introspeksi dan muhasabah (mawas diri) agar bangsa ini tidak terus-menerus dirundung bermacam musibah. Jika dilihat dari masalah kemiskinan yang meraja-lela menunjukkan bahwa masih ada kontras atau disparitas antara tujuan atau hikmah puasa dengan realitas kehidupan sehari-hari. Padahal tujuan atau hikmah puasa itu antara lain adalah bukan hanya menahan hawa nafsu seperti makan, minum, dan seks, tapi juga untuk menunjukkan solidaritas kita terhadap mereka yang lapar. Banyak saudara kita yang tidak punya apa-apa. Jangankan rumah atau kendaraan, buat makan sehari-hari saja susah. Ini sangat kontras dengan hikmah puasa, terutama tentang solidaritas dan sikap santun kepada orang miskin. Umat Islam dari dulu sudah berpuasa. Tapi, solidaritas yang betul-betul membebaskan, mengangkat harkat dan kehidupan orang-orang miskin menjadi lebih layak, belum banyak terwujud, sampai hari ini. Walaupun, memang, di bulan puasa biasanya solidaritas meningkat dalam bentuk empati dengan cara sama-sama merasakan lapar. Persoalan kemiskinan sangat kompleks. Kita tidak bisa mengandalkan semangat keagamaan saja. Kita tidak bisa mengharapkan hanya dari peningkatan solidaritas terhadap orang miskin pada bulan puasa. Untuk menuntaskan masalah kemiskinan, perlu pendekatan komprehensif. Selain penyelesaian dengan pendekatan keagamaan juga diperlukan. Artinya, solidaritas umat Islam, mukmin dan mutakin harus ditingkatkan dengan memperbesar ZIS dan kontribusinya bagi umat yang miskin. Ramadhan tentu sangat relevan sebagai upaya menggairahkan kehidupan ekonomi. Karena selain menuntut peningkatan solidaritas terhadap sesama, etos sosial, etos kerja dan etos ekonomi kaum Muslim juga harus ditingkatkan. Selama ini ada kajian-kajian yang menyebutkan bahwa etos kerja kaum Muslim di Nusantara relatif lemah. Etos ekonomi dan sosial juga masih rendah. Kita melihat banyak yang lebih senang santai, mungkin karena lingkungan alam di negeri ini terlalu ramah. Sehingga banyak yang merasa tidak perlu kerja keras karena apa saja bisa tumbuh. Kata orang, tongkat kayu dan batu pun bisa jadi tanaman. Solusinya, ya etos kerja harus ditingkatkan. Bukan etos agama saja yang kuat namun jika faktor-faktor struktural tidak diatasi, tetap saja akan terjadi ketidakadilan ekonomi. Maka persoalan kemiskinan di Indonesia tidak akan pernah selesai. Agama mengajarkan, bekerjalah untuk dunia seolah-olah kau akan hidup abadi selamanya. Tapi pada saat yang sama, agama juga memerintahkan, beribadahlah untuk akhiratmu seolah-olah engkau akan mati esok hari. Dengan demikian, mestinya etos kerja dan agama dalam jiwa umat Islam harusnya kuat sekali. *** l.meilany

0 comments:

Posting Komentar

Copyright @ 2013 Muslim Journey.