Rabu, 21 Agustus 2013

Filled Under:

Kehati-Hatian

Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal (QS Al Baqarah [2]: 197) Ada kata yang sangat sentral dalam Alquran. Kata itu adalah takwa. Mengapa? Takwa adalah goal dari diturunkannya Alquran dan diutusnya Rasulullah SAW. Takwa menjadi prasyarat meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Tak mengherankan bila dalam khutbah Jumat, khatib selalu mengajak jamaah untuk bertakwa. Salah satunya QS Ali Imran[3] ayat ke-102, Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. Tak kurang dari lima belas kali kata takwa terulang dalam Alquran. Perintah bertakwa (ittaqu) terulang sebanyak 69 kali. Sedangkan kata muttaquun atau (orang-orang yang bertakwa–jamak) sebanyak enam kali dan muttaqiin (orang bertakwa–tunggal) sebanyak empat puluh tiga kali. Kata taqwa terambil dari akar kata waqaa-yaqii yang bermakna menjaga (melindungi) dari bencana atau sesuatu yang menyakitkan. Pendapat lain menyatakan bahwa kata ini terambil dari akar kata waqwaa, kemudian huruf waawu pada awalnya diganti dengan ta’ sehingga berbunyi taqwa, yang artinya terhalang. Ada ungkapan yang dinilai berasal dari Rasulullah SAW yang menyatakan al-taqii muljam bahwa orang bertakwa itu terkendali lidahnya. Ungkapan ini bermakna kehati-hatian. Demikian ungkap Dr Quraish Shihab dalam bukunya Secercah Cahaya Ilahi (Mizan, 2000). Takwa bukan sekadar ritual Identiknya takwa dan sikap hati-hati, terungkap dalam percakapan antara Umar bin Khathab dengan Ubay bin Ka’ab. Ketika itu, Ubay bertanya kepada Umar tentang makna takwa. Khalifah kedua ini malah balik bertanya, Pernahkah engkau berjalan di tempat yang penuh duri? Ya pernah Apa yang engkau lakukan? tanya Umar kembali. Tentu aku sangat berhati-hati melewatinya!” jawab Ubay. Itulah yang dinamakan takwa, tegas umar. Jadi, orang takwa adalah orang yang hati-hati dalam bersikap. Segalanya penuh perhitungan. Pemahaman, emosi dan gerak fisiknya benar-benar dipandu aturan Ilahi agar seiring sejalan. Mereka tidak mau menerima uang, kecuali uang tersebut didapat dengan cara yang dibenarkan. Mereka tidak mau makan, kecuali makanan yang terjamin kehalalannya, baik zatnya atau cara mendapatkannya. Mereka tidak mau berbicara, kecuali pembicaraannya benar dan tidak menyakiti. Mereka tidak mau berbisnis, kecuali bisnisnya tidak merugikan orang, barang yang dijual terjamin kehalalannya, tidak melanggar undang-undang dan tidak tersentuh unsur riba. Intinya, dalam hal apa pun, orang bertakwa selalu menyertakan sikap hati-hati yang bersumber dari keinginan untuk menyelaraskan diri dengan aturan Allah SWT. Dalam bahasanya Stephen Covey, orang bertakwa adalah orang yang proaktif. Artinya, ia mampu memanfaatkan ruang antara stimulus (rangsangan) dan respons (tindakan) untuk berpikir sesuai prinsip. Sederhananya, orang bertakwa itu selalu melibatkan pikiran dalam setiap tindakannya. Sehingga tindakan yang dihasilkan dapat dipertanggungjawabkan dunia akhirat, karena selalu didasarkan pada prinsip-prinsip Ilahiyah. Misal, seorang pejabat menerima amplop berisi uang sepuluh juta. Ini stimulus. Apa respons pejabat ini? Kalau ia seorang muttaqin, maka ia tidak menerima amplop tersebut begitu saja. Ia akan bertanya, ini amplop dari siapa? Untuk apa? Apakah telah sesuai prosedur yang berlaku? Apakah halal? Apakah tidak menyalahi nilai-nilai kejujuran dalam agama? Kalau memang amplop itu hak dirinya juga terjamin kehalalannya, maka ia terima. Namun jika tidak, ia menolak walau dipaksa. Itulah respons yang didahului proses berhenti sejenak untuk berpikir dan menyesuaikan diri dengan prinsip-prinsip Ilahi. Dalam hal apa pun, tidak hanya yang berkaitan dengan uang. Tindakan dan ucapannya benar-benar terkendali dan penuh kehati-hatian. Sejatinya, sikap hati-hati dan terkendali menjamin keselamatan seseorang di dunia dan akhirat. Juga pengundang datangnya pertolongan Allah. Difirmankan, Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya (QS Ath Thalaaq [65]: 2-5) Sebaliknya, sikap ceroboh dan tak terkendali akan membuat seseorang binasa. Hampir semua masalah berawal dari ketidaktakwaan (kecerobohan, kurang perhitungan, kurang kendali). Perkelahian bisa terjadi karena tidak hati-hati menjaga lidah. Terjerumusnya ke lembah hitam bisa berawal dari kurang hati-hati memilih pergaulan, dan sebagainya. Maka jelas, takwa itu tidak identik dengan ibadah-ibadah ritual. Takwa harus terwujud dalam keseharian. Benarlah firman Allah SWT agar kita menjadikan takwa sebagai bekal. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal (QS Al Baqarah [2]: 197). Ramadhan dan kehati-hatian Ramadhan yang tengah kita jalani, sejatinya menjadi momentum tepat untuk menumbuhkan sikap hati-hati. Selama satu bulan penuh kita dilatih untuk tidak berkata, kecuali yang baik, benar lagi sesuai momennya. Dilatih mengendalikan perut, untuk tidak makan makanan haram bahkan makanan halal secara berlebihan. Dilatih mengendalikan mata, bukan saja dari memandang yang haram dipandang, tapi juga dari memandang hal-hal mubadzir. Juga panca indera dan perasaan, semuanya harus terkendali. Intinya, Ramadhan melatih kita menjadi manusia yang selalu berhati-hati. Allah SWT berfirman, Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS Al Baqarah [2]: 183). Wallaahu a’lam . (tri ) *** Sumber: republika.co.id

0 comments:

Posting Komentar

Copyright @ 2013 Muslim Journey.