Jumat, 24 Februari 2012

Tan Malaka Jauh Lebih Cerdas dari pada Bung Karno

Bukan saja Tan Malaka yang pertama sekali Pemimpin Indonesia, yang menulis (terbit 1925) bukuNaar de Republik Indonesia (Menuju Indonesia Merdeka) — Tan Malaka-lah Bapak Republik Indonesia.

Tetapi ide yang dituliskannya dalam buku-bukunya, alat filsafat yang dipergunakannya dalam perjuangan politik — menuju Indonesia Merdeka, lengkap meliputi semua aspek IPOLEKSOSBUD HANKAM.

Dialah Pemimpin Indonesia yang pertama-tama menyatakan Indonesia Negara berbentuk Republik — Tan Malaka memang Bapak Republik Indonesia.


Sementara Bung Karno dan Bung Hatta bekerjasama dengan Dai Nippon — sebagai taktik mendapatkan Kemerdekaan Indonesia, selama Perang Pasifik (Perang Dunia II) — Tan Malaka melalui Cina, Singapura, Burma, masuk kembali ke Semenanjung Melayu — Pulau Penang, menyeberang ke Medan-Deli, menyusuri ke Selatan Pulau Sumatera — menyeberangi Selat Sunda, tiba di Jakarta, menyusup sebagai Ilyas Hussein.

Ilyas Hussien bekerja di Bayah Kozan, di pertambangan batu bara di Bayah, Banten. Bekerja di antara para Romusha — menyaksikan penderitaan Romusha — menyusun kekuatan, mengorganisir sel-sel perlawanan melalui BPP PETA.


Bung Karno sebagai Cuo Sangi-In no Gico dan Bung Hatta sebagai Fuku Gico — datang mengunjungi Bayah Kozan, dan memberikan pidato ……………. yang isinya tentu sama dengan pidato-pidato sebelumnya …………… “ membantu kemenangan Dai Nippon setelah itu dijanjikan untuk mendapatkan kemerdekaan…………….”


Kaum pergerakan yang menolak bekerja sama dengan Dai Nippon, yang bergerak nyata — terutama kalangan pemuda, maupun kaum pergerakan di bawah tanah, ……………. Berbeda dalam hal ini,


Tan Malaka masih dalam penyamarannya di Bayah Kozan, sebagai Ilyas Hussien — mendapat kesempatan bertanya dalam forum itu (ia selaku panitia penerima tamu, sedang menghidangkan jaburan kue dan minuman) …………….



Dalam buku “Dari Penjara ke Penjara, jilid II hal 357, (ditulis Tan Malaka tahun 1947) ………………….Tergesa-gesa saya meletakkan talam kue dan minuman dari tempat yang paling belakang sekali saya meminta bertanya : ‘Kalau saya tidak salah, bahwa kemenangan berakhir dahulu dan dibelakangnya baru Kemerdekaan Indonesia. Artinya itu kemenangan terakhir dahulu dan dibelakangnya baru Kemerdekaan Indonesia. Tanya saya : ‘Apakah tidak lebih tepat, bahwa Kemerdekaan Indonesialah kelak yang lebih menjamin kemenangan terakhir ?”


Sejarah telah menukilkan kelompok pemuda-lah yang mendesak dan mematangkan Proklamasi Kemerdekaan (antara lain pemuda Adam Malik) Agustus 1945 — setelah gerakan bawah tanah Sutan Sjahrir memastikan berita Dai Nippon bertekuk lutut kepada Sekutu.




Proklamasi 17 Agustus 1945 — di-support dengan Rapat Raksasa di Lapangan Ikada September 1945, yang digerakkan oleh Tan Malaka dengan mengerahkan Rakyat dari Banten.


Rapat Raksasa Ikada itulah yang menjadi pegangan Sekutu (baca Amerika Serikat), bahwa Proklamasi Kemerdekaan Negara Republik Indonesia — didukung Seluruh Rakyatnya !


Adam Malik belakang hari menjadi Pemimpin Partai Murba yang didirikan Tan Malaka — berdasarkan Keputusan Presiden No. 53 tahun 1963 Tan Malaka diakui sebagai Pahlawan Nasional.



Pak Harto sebagai Presiden RI melalui Menlu Adam Malik, mengkonsolidasi dengan mengakhiri Dwikora (koreksi Bung Karno, ingin merebut Kalimantan Utara) — Indonesia rukun kembali dengan Malaysia — melaksanakan ide ASLIA Tan Malaka, membentuk ASEAN.


Integrasi Timor Timur sebagai propinsi Indonesia, di era Orde Baru Pak Harto, realisasi pelaksanaan ide Tan Malaka, bahwa Kemerdekaan Indonesia meliputi Malaya, Kalimantan Utara, Timor Portugis, dan seluruh Hindia Belanda.

Merdeka !

13295730691031064507

Bukan saja Tan Malaka yang pertama sekali Pemimpin Indonesia, yang menulis (terbit 1925) bukuNaar de Republik Indonesia (Menuju Indonesia Merdeka) — Tan Malaka-lah Bapak Republik Indonesia.

Tetapi ide yang dituliskannya dalam buku-bukunya, alat filsafat yang dipergunakannya dalam perjuangan politik — menuju Indonesia Merdeka, lengkap meliputi semua aspek IPOLEKSOSBUD HANKAM.

Dialah Pemimpin Indonesia yang pertama-tama menyatakan Indonesia Negara berbentuk Republik — Tan Malaka memang Bapak Republik Indonesia.


Sementara Bung Karno dan Bung Hatta bekerjasama dengan Dai Nippon — sebagai taktik mendapatkan Kemerdekaan Indonesia, selama Perang Pasifik (Perang Dunia II) — Tan Malaka melalui Cina, Singapura, Burma, masuk kembali ke Semenanjung Melayu — Pulau Penang, menyeberang ke Medan-Deli, menyusuri ke Selatan Pulau Sumatera — menyeberangi Selat Sunda, tiba di Jakarta, menyusup sebagai Ilyas Hussein.

Ilyas Hussien bekerja di Bayah Kozan, di pertambangan batu bara di Bayah, Banten. Bekerja di antara para Romusha — menyaksikan penderitaan Romusha — menyusun kekuatan, mengorganisir sel-sel perlawanan melalui BPP PETA.


Bung Karno sebagai Cuo Sangi-In no Gico dan Bung Hatta sebagai Fuku Gico — datang mengunjungi Bayah Kozan, dan memberikan pidato ……………. yang isinya tentu sama dengan pidato-pidato sebelumnya …………… “ membantu kemenangan Dai Nippon setelah itu dijanjikan untuk mendapatkan kemerdekaan…………….”


Kaum pergerakan yang menolak bekerja sama dengan Dai Nippon, yang bergerak nyata — terutama kalangan pemuda, maupun kaum pergerakan di bawah tanah, ……………. Berbeda dalam hal ini,


Tan Malaka masih dalam penyamarannya di Bayah Kozan, sebagai Ilyas Hussien — mendapat kesempatan bertanya dalam forum itu (ia selaku panitia penerima tamu, sedang menghidangkan jaburan kue dan minuman) …………….



Dalam buku “Dari Penjara ke Penjara, jilid II hal 357, (ditulis Tan Malaka tahun 1947) ………………….Tergesa-gesa saya meletakkan talam kue dan minuman dari tempat yang paling belakang sekali saya meminta bertanya : ‘Kalau saya tidak salah, bahwa kemenangan berakhir dahulu dan dibelakangnya baru Kemerdekaan Indonesia. Artinya itu kemenangan terakhir dahulu dan dibelakangnya baru Kemerdekaan Indonesia. Tanya saya : ‘Apakah tidak lebih tepat, bahwa Kemerdekaan Indonesialah kelak yang lebih menjamin kemenangan terakhir ?”


Sejarah telah menukilkan kelompok pemuda-lah yang mendesak dan mematangkan Proklamasi Kemerdekaan (antara lain pemuda Adam Malik) Agustus 1945 — setelah gerakan bawah tanah Sutan Sjahrir memastikan berita Dai Nippon bertekuk lutut kepada Sekutu.




Proklamasi 17 Agustus 1945 — di-support dengan Rapat Raksasa di Lapangan Ikada September 1945, yang digerakkan oleh Tan Malaka dengan mengerahkan Rakyat dari Banten.


Rapat Raksasa Ikada itulah yang menjadi pegangan Sekutu (baca Amerika Serikat), bahwa Proklamasi Kemerdekaan Negara Republik Indonesia — didukung Seluruh Rakyatnya !


Adam Malik belakang hari menjadi Pemimpin Partai Murba yang didirikan Tan Malaka — berdasarkan Keputusan Presiden No. 53 tahun 1963 Tan Malaka diakui sebagai Pahlawan Nasional.



Pak Harto sebagai Presiden RI melalui Menlu Adam Malik, mengkonsolidasi dengan mengakhiri Dwikora (koreksi Bung Karno, ingin merebut Kalimantan Utara) — Indonesia rukun kembali dengan Malaysia — melaksanakan ide ASLIA Tan Malaka, membentuk ASEAN.


Integrasi Timor Timur sebagai propinsi Indonesia, di era Orde Baru Pak Harto, realisasi pelaksanaan ide Tan Malaka, bahwa Kemerdekaan Indonesia meliputi Malaya, Kalimantan Utara, Timor Portugis, dan seluruh Hindia Belanda.

Merdeka !

13295730691031064507

Bung Karno Sang Inisiator Pemugaran dan Pencarian Makam Imam Bukhari (Ahli Hadist)

Orang Indonesia Di Istimewakan Dimakam Imam Bukhari
1329611927554574616

Kebesaran nama mantan presiden Indonesia pertama Ir Soekarno tak
pernah lenyap dimakan jaman baik di negeri sendiri ataupun di luar
negeri, terutama di daerah Eropa Timur. Di bekas negara pecahan Uni
Soviet, yaitu negara Uzbekistan, nama Ir Soekarno sangat dihormati, jika
orang Indonesia (muslim) datang berkunjung ke Uzbekistan sempatkan
diri untuk mengunjungi Makam Imam Bukhari salah satu ahli hadits nabi
muhammad SAW maka akan diberi keistimewaan, orang Indonesia akandiizinkan masuk ke bagian dasar bangunan yang merupakan tempat
jasad Imam Bukhari disemayamkan.
Makam Imam Bukhari tertutup untuk umum, tetapi kalau ada orang
indonesia datang pintu makam akan dibukakan dan persilahkan masuk,
hal ini dikarenakan Ir Soekarno merupakan orang yang melakukan
pemugaran dan merenovasi tempat itu, sehingga semua orang Indonesia
diberi keistimewaan di tempat itu

Sejarah Ir Soekarno sebagai penemu makam Imam Bukhari
Di Tashkent tidak ada jalan bernama Bung Karno. Tapi bukan berarti
rakyat Uzbekistan ini tidak mengenal presiden pertama Republik
Indonesia itu.Tidak banyak yang tahu kalau Bung Karno adalah penemu makam Imam
Al Bukhari, seorang perawi hadist Nabi Muhammad SAW. Begini
ceritanya. Tahun 1961 pemimpin tertinggi Partai Komunis Uni Soviet
sekaligus penguasa tertinggi Uni Soviet Nikita Sergeyevich Khrushchev
mengundang bung Karno ke Moskow. Kayaknya Khrushchev hendak
menunjukkan pada Amerika bahwa Indonesia berdiri di belakang Uni
Soviet.
Karena bukan orang lugu, Bung Karno tidak mau begitu saja datang ke

Moskow. Bung Karno tahu, kalau Indonesia terjebak, yang paling rugi
dan menderita adalah rakyat. Bung Karno tidak mau membawa Indonesia
ke dalam situasi yang tidak menguntungkan. Bung Karno juga tidak mau
Indonesia dipermainkan oleh negara mana pun.
Bung Karno mengajukan syarat. Kira-kira begini kata Bung Karno, “Saya
mau datang ke Moskow dengan satu syarat mutlak yang harus dipenuhi.
Tidak boleh tidak”. Khrushchev balik bertanya, “Apa syarat yang Paduka Presiden ajukan?”
Bung Karno menjawab, “Temukan makam Imam Al Bukhari. Saya sangat
ingin menziarahinya.”
jelas saja Khrushchev terheran-heran. Siapa lagi ini Imam Al Bukhari.
Dasar orang Indonesia, ada-ada saja. Mungkin begitu sungutnya dalam
hati. Tidak mau membuang waktu, Khrushchev segera memerintahkan
pasukan elitnya untuk menemukan makam dimaksud. Entah berapa lama
waktu yang dihabiskan anak buah Khrushchev untuk menemukan makam
itu, yang jelas hasilnya nihil.
Khrushchev kembali menghubungi Bung Karno. “Maaf Paduka Presiden,
kami tidak berhasil menemukan makam orang yang Paduka cari. Apa
Anda berkenan mengganti syarat Anda?” Bung Karno tersenyum sinis. “Kalau tidak ditemukan, ya sudah, saya lebih baik tidak usah datang ke negara Anda.”'

Kalimat singkat Bung Karno ini membuat kuping Khrushchev panas
memerah. Khrushchev balik kanan, memerintahkan orang-orang nomor
satunya langsung menangani masalah ini. Nah, akhirnya setelah bolak
balik sana sini, serta mengumpulkan informasi dari orang-orang tua
Muslim di sekitar Samarkand, anak buah Khrushchev menemukan makam
Imam kelahiran Bukhara tahun 810 Masehi itu. Makamnya dalam kondisi
rusak tak terawat.
Imam Al Bukhari yang memiliki pengaruh besar bagi umat Islam di
Indonesia itu dimakamkan di Samarkand tahun 870 M.
Khrushchev memerintahkan agar makam itu dibersihkan dan dipugar
secantik mungkin.
Selesai renovasi, Khrushchev menghubungi Bung Karno kembali. Intinya,
misi pencarian makam Imam Al Bukhari berhasil. Sambil tersenyum Bung
Karno mengatakan, “Baik, saya datang ke negara Anda.” Setelah dari
moskow, tanggal 12 Juni 1961 Bung Karno tiba di Samarkand. Sehari
sebelumnya puluhan ribu orang menyambut kehadiran Pemimpin Besar
Revolusi Indonesia ini di Kota Tashkent.
Quote :
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawan
Janganlah sekali-kali kamu meninggalkan sejarah (jasmerah)

Cleopatra: Ratu Mesir yang Cantik, Cerdas dan Ambisius

13296575521508633993

Cleopatra Queen of Egypt (image from google)
kenal dengan Cleopatra? Siapa sih yang tidak kenal dengan Ratu yang terkenal dengan kecantikannya ini. Ikon kecantikan wanita Mesir yang tersohor sampai saat ini. Tapi siapakah dia, tentu tidak banyak orang yang mengetahuinya.

Cleopatra adalah salah satu putri dari raja Ptolemy XII, firaun (raja) Mesir yang berkuasa pada tahun 80-58 SM dan 55-54 SM. Dinasti Ptolemy ini sebenarnya berasal dari Macedonia yaitu sebuah wilayah di semenanjung Balkan di Eropa Selatan. Cleopatra yang lahir pada tahun 69 SM, memiliki 2 saudara laki-laki yaitu Ptolemy XIII dan Ptolemy XIV, dan 3 saudara perempuan yaitu Bernice IV, Cleopatra Tryphanea VI dan Arsinoe IV.

Cleopatra dan keluarganya tinggal di Alexandria, ibukota Mesir yang indah. Kota yang ditemukan oleh Alexander the Great pada tahun 331 SM ini adalah kota pelabuhan penting di dunia sejak jaman dulu. Di sini pernah dibangun mercusuar pertama di dunia pada sekitar tahun 280 SM tapi hancur saat terjadi gempa bumi pada abad 14 Masehi. Alexandria juga merupakan kota dengan peradaban multikultural yang menarik. Orang-orang Yunani, Mesir dan Arab hidup berdampingan dengan kehidupan yang harmonis. Dan Cleopatra sendiri berasal dari keluarga Yunani.

1329676878450265662
Cleopatra naik tahta pada usia 18 tahun, setelah ayahnya Ptolemy XII meninggal dunia. 2 kakak perempuan Cleopatra tewas secara misterius sehingga Cleopatra-lah yang berhak menjadi ratu saat itu. Dia menikahi saudara laki-lakinya Ptolemy XIII yang usianya lebih muda darinya. Merupakan satu kebiasaan keluarga raja saat itu menikah dengan anggota keluarga kerajaan sendiri, hal ini bertujuan untuk melanggengkan kekuasaan dan jika menikah dengan orang di luar keluarga raja mereka percaya itu akan melemahkan kekuatan. Banyak orang sangsi dengan kepemimpinan Cleopatra saat itu karena dianggap masih terlalu muda. Tapi dia cukup tahu, bahwa dengan pesona dan kecerdasannya dia mampu untuk tetap menjadi Ratu. Dia menamakan dirinya The Sun-God’s Daughter (Putri Dewa Matahari).
Pada awal masa pemerintahannya, Cleopatra bersikeras untuk tetap mengontrol kerajaan (Mesir) tanpa bantuan orang lain, termasuk adik laki-lakinya Ptolemy XIII yang juga suaminya. Oleh karena itu dia punya banyak musuh. Salah satu di antaranya adalah Pothinus, penasehat Ptolemy XIII. Mereka berdua bersekongkol untuk mendepak Cleopatra dari singgasana kerajaan. Cleopatra yang mengetahui rencana Pothinus dan Ptolemy untuk menculik untuk kemudian membunuhnya. Maka saat itu Cleopatra dan adiknya Arsinoe melarikan diri ke Syria mencari perlindungan dan juga menggalang kekuatan untuk dapat kembali menguasai Mesir. Dia kembali ke Mesir setelah mendapatkan jaminan keamanan dari Julius Caesar (politikus dan pemimpin militer dari Romawi) yang kebetulan berada di Mesir untuk suatu kepentingan.
Saat Cleopatra menjadi ratu di Mesir, dia mendirikan sebuah perpustakaan di ibukota kerajaan, Alexandria. Dan perpustakaan itu menjadi yang terbesar di dunia saat itu. Maka itu kota Alexandria dijuluki sebagai City of Learning.
Pada masa pemerintahannya ada beberapa bahasa yang digunakan di Mesir, hal ini terbukti dengan ditemukannya Rosetta Stone yang berisi 3 jenis tulisan yaitu: Hieroglyphs (tulisan untuk teks yang berhubungan dengan kerajaan dan tulisan yang berhubungan dengan agama), Demotic(tulisan umum yang lebih simple dari hieroglyphs) dan Greek (bahasa ibu Cleopatra).

Cleopatra juga sangat terkenal dengan penguasaanya terhadap 3 bahasa tersebut dan beberapa bahasa yang lain. Hmmm…. menakjubkan ya??! Cantik dan juga pintar.

132967347417478732
Egyptian Costume (image from google)
Soal kecantikan sang Ratu, ini yang tidak perlu diragukan lagi. Cleopatra tahu kalau penampilan itu sangat penting buat seorang wanita terutama seorang Ratu seperti dirinya. Menurutnya, penampilan yang elegan akan membuat dia disegani oleh rakyat dan pemimpin kerajaan lainnya. Cleopatra sangat memperhatikan busana yang dikenakannya. Saat dia tampil untuk tugas resmi kerajaan dan berada di depan publik, dia mengenakan busana khas Mesir, gaun panjang yang dihiasi manik-manik dan bordir. Sedangkan jika berada dalam istana pribadinya Cleopatra mengenakan busana khas Yunani yang berbahan linen lembut atau sutra.
Kebersihan tubuh juga sangat diperhatikannya. Mandi dengan menggunakan sabun serta memakai wewangian atau parfum setelah mandi merupakan rutinitas yang tidak pernah ditinggalkan Cleopatra. Parfum atau wewangian itu terbuat dari bahan-bahan alami seperti kayu manis (cinnamon), bunga lily, kayu cedar, madu dan henna. Dan umumnya wanita Mesir juga memiliki kebiasaan yang sama soal mandi dan memakai parfum ini.
Untuk tata rias atau make up, Cleopatra juga tidak kalah perhatiannya. Bedak, blush on, eye liner, eye shadow, lipstick sudah dipakai sang Ratu pada masa itu dan tentu saja bahannya bukan bahan kimia seperti saat ini tapi bahan-bahan alami dengan warna yang natural. Cermin untuk mematut diri juga sudah dibuat pada jaman itu, bedanya bukan dari kaca tapi terbuat dari logam. Ratu Cleopatra juga menggunakan wig sebagai pelengkap penampilannya dengan hiasan mahkota ular cobra sebagai mahkotanya. Ular cobra adalah simbol dewa pelindung untuk menjaga Raja atau Ratu.

Selain kecantikan dan kecerdasannya, Cleopatra juga dikenal ambisius. Ambisi untuk menjadikan Mesir kerajaan yang kaya, beradab dan lebih berhasil dari pemerintahan Ptolemic sebelumnya. Merebut kembali tanah-tanah yang pernah dikendalikan dari luar Mesir juga menjadi satu ambisinya. Wilayah kekuasaan Cleopatra di luar Mesir cukup besar meliputi Syria, Lebanon, dan sebagian kecil Asia.
Sebagai pemimpin dari sebuah kerajaan besar, Cleopatra tidak luput dari berbagai ancaman pembunuhan terutama dari musuh-musuh yang menginginkan kekuasaannya. Pada tahun 30 SM Cleopatra tewas secara misterius bersama dua pelayannya. Karena jasad sang Ratu tidak pernah ditemukan, para ahli sejarah tidak dapat memastikan bagaimana sebenarnya Cleopatra tewas. Cerita yang paling terkenal adalah Cleopatra tewas karena digigit ular kecil berbisa yang dinamakan Asp.Tapi cerita ini juga tidak sepenuhnya bisa dipercaya, banyak yang meragukan Asp bisa menggigit sang Ratu beserta 2 pelayannya hingga tewas. Entahlah apakah Cleopatra tewas karena digigit ular berbisa atau sengaja di racun sampai sekarang masih jadi misteri.
Yang jelas sampai saat ini Cleopatra masih dikenal sebagai Ratu paling cantik sejagad. Dan tetap menjadi ikon kecantikan wanita Mesir.

Tornado Menyapu Permukaan Matahari


NASA

Tornado menyapu permukaan Matahari
Tornado yang sangat hebat menyapu permukaan Matahari dan berhasil ditangkap oleh satelit milik NASA, Solar Dynamics Observatory (SDO).

Video hasil tangkapan SDO menunjukkan bahwa plasma tornado menyapu permukaan Matahari dalam rentang waktu hampir 30 jam, mulai dari 7-8 Februari 2012.

Terry Kucera, pakar fisika Matahari NASA, mengungkapkan bahwa ukuran plasma tornado hampir menyamai Bumi dan berputar dengan kecepatan mencapai 480 km per jam.

"Suhunya sekitar 15.000 derajat fahrenheit (sekitar 8.300 derajat celsius), relatif dingin," kata Kucera. Suhu itu tak seberapa dibanding suhu korona yang bisa mencapai jutaan derajat celsius.

Tornado ini bukan kali pertama terjadi. Wahana antariksa SOHO milik European Space Agency (ESA) setidaknya telah mendeteksi adanya tornado di Matahari sejak tahun 1996.

Tornado di Matahari hampir serupa dengan tornado di Bumi, tetapi tercipta lewat proses berbeda. Jika tornado di Bumi dipengaruhi fluktuasi dan temperatur, tornado di Matahari dipengaruhi magnetisme.

Menurut Kucera, tornado tercipta karena adanya dua gaya magnet yang saling bersaing menarik partikel bermuatan di muka Matahari. Proses ini menciptakan plasma yang berputar di sepanjang medan magnet.

Rentang putaran plasma tornado bisa sangat mencengangkan, mencapai ratusan ribu mil.

"Secara total, panjangnya bisa lusinan Bumi, besar," cetus Kucera seperti dikutip Foxnews, Jumat (17/2/2012).

Video tornado yang menyapu Matahari bisa dilihat di bawah. Video yang sedemikian detail bisa direkam berkat kehebatan SDO yang mampu merekam aktivitas Matahari pada berbagai panjang gelombang. Video ini dirilis pada 11 Februari 2012 untuk memperingati 2 tahun misi SDO.

Sosok Syamsuddin Assumatrani

Sejak lama Aceh sudah dikenal sebagai satu-satunya daerah yang aksentuasi keislamannya sangat megah. Selain warna keislamannya menonjol dalam kehidupan sosio-kultur, ternyata di Bumi Aceh juga hidup para sufi ternama, semisal Hamzah Fansuri dan Syamsuddin Assumatrani.

Syamsuddin Assumatrani atau Syamsuddin Pasai adalah salah satu tokoh sufi terkemuka yang telah mewarnai corak Islam di Aceh. Sayangnya, perjalanan hidup sang sufi ini sulit sekali untuk dirangkai secara utuh. Selain karena tidak ditemukan catatan otobiografinya, juga karena langkanya sumber-sumber akurat yang dapat dirujuk.

Bahkan tidak kurang peneliti seperti Prof Dr Azis Dahlan yang pernah mengadakan penelitian untuk disertasinya, merasa kesulitan dengan langkanya sumber-sumber mengenai tokoh sufi yang satu ini. Di antara sumber tua yang dapat dijumpai mengenai potret Syamsuddin Assumatrani adalah Hikayat Aceh, Adat Aceh, dan kitab Bustanu al-Salatin. Itu pun tidak memotret perjalanan hidupnya secara terinci. Meski demikian, dari serpihan-serpihan data historis yang terbatas itu, kiranya cukuplah bagi kita untuk sekadar memperoleh gambaran akan kiprahnya berikut spektrum pemikirannya.

Mengenai asal-usulnya, tidak diketahui secara pasti kapan dan dimana dia lahir. Perihal sebutan Sumatrani yang selalu diiringkan di belakang namanya, itu merupakan penisbahan dirinya kepada “negeri Sumatra” alias Samudra Pasai. Sebab, memang di kepulauan Sumatra ini tempo doeloe pernah berdiri sebuah kerajaan yang cukup ternama, yakni Samudra Pasai. Itulah sebabnya dia juga adakalanya disebut Syamsuddin Pasai.

Para sejarawan menisbahkan namanya dengan sebutan Sumatrani ataupun Pasai. Ini mengisyaratkan dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, orang tuanya adalah orang Pasai (Sumatra). Dengan demikian, bisa diduga bahwa ia sendiri dilahirkan dan dibesarkan di Pasai. Jika pun ia tidak lahir di Pasai, maka kemungkinan kedua bahwa sang ulama terkemuka pada zamannya ini telah lama bermukim di Pasai.

Berbicara tentang peranan Samudra Pasai sebagai pusat pengajaran dan pengembangan Islam, Negeri Pasai memang lebih dahulu terkemuka daripada Banda Aceh. Paling tidak Samudera Pasai lebih dulu terkemuka pada kisaran abad ke-14 dan 15 M. Sementara beralihnya tampuk kekuasaan Negeri Pasai kepada Kerajaan Aceh Darussalam baru berlangsung pada tahun 1524. Begitu juga dalam hal kesastraan, Hikayat Raja-raja Pasai lebih tua dibandingkan Gurindam Duabelas Karya Raja Ali Haji Pulau Penyengat,Tanjung Pinang, Bintan, Kepulauan Riau.

Pada masa pemerintahan Sayyid Mukammil (1589-1604), Syamsuddin Assumatrani sudah menjadi orang kepercayaan Sultan Aceh. Sayang ,dalam kitab Bustan al-Salathin sendiri tidak disingkapkan bagaimana perjalanan Syamsuddin sehingga ia menjadi ulama yang paling dipercaya dalam lingkungan istana kerajaan Aceh selama tiga atau empat dasawarsa.

Syamsuddin Assumatrani wafat pada tahun 1039 H/1630 M, dan selama beberapa dasawarsa terakhir dari masa hidupnya dia merupakan tokoh agama terkemuka yang dihormati dan disegani. Dia berada dalam lindungan dan bahkan berhubungan erat dengan penguasa Kerajaan Aceh Darussalam.

Syamsuddin Assumatrani adalah satu dari empat ulama yang paling terkemuka. Dia berpengaruh serta berperan besar dalam sejarah pembentukan dan pengembangan intelektualitas keislaman di Aceh pada kisaran abad ke-l7 dan beberapa dasawarsa sebelumnya. Keempat ulama tersebut adalah Hamzah Fansuri, Syamsuddin Assumatrani, Nuruddin Ar-Raniri, dan Abdur Rauf As-Singkili (1615/20-1693). Mengenai ada tidaknya hubungan antara Syamsuddin Assumatrani dengan ketiga ulama lainnya, ada baiknya disinggung seperlunya.

Mengenai hubungan Hamzah Fansuri dengan Syamsuddin Assumatrani, sejarawan A. Hasjmy cenderung memandang Syamsuddin Assumatrani sebagai murid dari Hamzah Fansuri. Pandangannya ini diperkuat dengan ditemukannya dua karya tulis Syamsuddin Assumatrani yang merupakan ulasan (syarah) terhadap pengajaran Hamzah Fansuri. Kedua karya tulis Syamsuddin Assumatrani itu adalah Syarah Ruba’i Hamzah Fansuri dan Syarah Syair Ikan Tongkol.

Adapun hubungannya dengan Nuruddin ar-Raniri, hal ini tidak diketahui secara pasti. Yang jelas adalah bahwa tujuh tahun setelah Syamsuddin Assumatrani wafat, Raniri memperoleh kedudukan seperti sebelumnya diperoleh Syamsuddin Sumatrani. Dia diangkat menjadi mufti Kerajaan Aceh Darussalam pada tahun 1637 oleh Sultan Iskandar Tsani. Karena fatwanya yang men-zindiq-kan (mengkafirkan) paham wahdatul wujud Syamsuddin Assumatrani, maka para pengikut Hamzah Fansuri dan Syamsuddin Sumatrani dihukum oleh pihak penguasa dengan hukuman bunuh. Bahkan literatur-literatur yang mereka miliki dibakar habis. Pada masa inilah dimulainya kekerasan pertama di Aceh terhadap karya dan pemikiran, Namun demikian, para pengikut paham Assumatrani itu ternyata tidak punah semuanya.

Pada kisaran tahun 1644 saat Safiatuddin menjadi Sultanah, Raniri disingkirkan dari kedudukannya selaku mufti kerajaan Aceh Darussalam. Dia pun terpaksa pulang kampung, ke Ranir, Gujarat. Sebagai penggantinya, Sultanah Tajul Alam Safiatuddin (1641-1675) kemudian mempercayakan jabatan mufti kerajaan kepada Abdurrauf atau Syiah Kuala.

Dari hasil penelitian Prof Dr Azis Dahlan diketahui adanya sejumlah karya tulis yang dinyatakan sebagai bagian, atau berasal dari karangan Syamsuddin Assumatrani, atau disebutkan bahwa Syamsuddin Assumatrani yang mengatakan pengajaran itu. Karya-karya tulis itu sebagian berbahasa Arab, sebagian lagi berbahasa Melayu (Jawi). Di antara karya tulisnya yang dapat dijumpai adalah sebagai berikut:

Jawhar al-Haqa’iq (30 halaman; berbahasa Arab), merupakan karyanya yang paling lengkap yang telah disunting oleh Van Nieuwenhuijze. Kitab ini menyajikan pengajaran tentang martabat tujuh dan jalan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

Risalah Tubayyin Mulahazhat al-Muwahhidin wa al-Mulhidin fi Dzikr Allah (8 balaman; berbahasa Arab). Karya yang telah disunting oleb Van Nieuwenhuijze ini, kendati relatif singkat, cukup penting karena mengandung penjelasan tentang perbedaan pandangan antara kaum yang mulhid dengan yang bukan mulhid.

Mir’at al-Mu’minin (70 halaman; berbahasa Melayu). Karyanya ini menjelaskan ajaran tentang keimanan kepada Allah, para rasul-Nya, kitab-kitab-Nya, para malaikat-Nya, hari akhirat, dan kadar-Nya. Jadi, pengajarannya dalam karya ini membicarakan butir-butir akidah, sejalan dengan paham Ahlus Sunnah wal Jama’ah (tepatnya Asy’ariah-Sanusiah).

Syarah Ruba’i Hamzah Fansuri (24 halaman; berbahasa Melayu). Karya ini merupakan ulasan terhadap 39 bait (156 baris) syair Hamzah Fansuri. Isinya, antara lain, menjelaskan pengertian kesatuan wujud (wahdat al-wujud).

Syarah Sya’ir Ikan Tongkol (20 balaman; berbahasa Melayu). Karya ini merupakan ulasan (syarah) terbadap 48 baris sya’ir Hamzah Fansuri yang mengupas soal Nur Muhammad dan cara untuk mencapai fana di jalan Allah.

Nur al-Daqa’iq (9 halaman berbahasa Arab; 19 halaman berbahasa Melayu). Karya tulis yang sudah ditranskripsi oleh AH. Johns ini (1953) mengandung pembicaraan tentang rahasia ilmu makrifah (martabat tujuh).

Thariq al-Salikin (18 halaman; berbahasa Melayu). Karya ini mengandung penjelasan tentang sejumlah istilah, seperti wujud, ‘adam, haqq, bathil, wajib, mumkin, mumtani’ dan sebagainya.

Mir’at al-Iman atau Kitab Bahr al-Nur (12 halaman; berbahasa Melayu). Karya ini berbicara tentang ma’rifah, martabat tujuh, dan tentang ruh.

Kitab al-Harakah (4 halaman; ada yang berbahasa Arab dan ada pula yang berbahasa Melayu). Karya ini berbicara tentang ma’rifah atau martabat tujuh.

“Beu Seulamat Iman teuh mandum. Berpegang teguhlah dengan agama itu, sebab agama Islamlah yang telah memajukan Aceh dan terkenal ke seluruh dunia Melayu.” Pesan ini disampaikan ketika Syamsuddin Assumatrani ditembak oleh Portugis dalam misi penyerangan kafir Portugis di Malaka, masa Iskandar Muda.Wallahu a’lam.

Sejak lama Aceh sudah dikenal sebagai satu-satunya daerah yang aksentuasi keislamannya sangat megah. Selain warna keislamannya menonjol dalam kehidupan sosio-kultur, ternyata di Bumi Aceh juga hidup para sufi ternama, semisal Hamzah Fansuri dan Syamsuddin Assumatrani.

Syamsuddin Assumatrani atau Syamsuddin Pasai adalah salah satu tokoh sufi terkemuka yang telah mewarnai corak Islam di Aceh. Sayangnya, perjalanan hidup sang sufi ini sulit sekali untuk dirangkai secara utuh. Selain karena tidak ditemukan catatan otobiografinya, juga karena langkanya sumber-sumber akurat yang dapat dirujuk.

Bahkan tidak kurang peneliti seperti Prof Dr Azis Dahlan yang pernah mengadakan penelitian untuk disertasinya, merasa kesulitan dengan langkanya sumber-sumber mengenai tokoh sufi yang satu ini. Di antara sumber tua yang dapat dijumpai mengenai potret Syamsuddin Assumatrani adalah Hikayat Aceh, Adat Aceh, dan kitab Bustanu al-Salatin. Itu pun tidak memotret perjalanan hidupnya secara terinci. Meski demikian, dari serpihan-serpihan data historis yang terbatas itu, kiranya cukuplah bagi kita untuk sekadar memperoleh gambaran akan kiprahnya berikut spektrum pemikirannya.

Mengenai asal-usulnya, tidak diketahui secara pasti kapan dan dimana dia lahir. Perihal sebutan Sumatrani yang selalu diiringkan di belakang namanya, itu merupakan penisbahan dirinya kepada “negeri Sumatra” alias Samudra Pasai. Sebab, memang di kepulauan Sumatra ini tempo doeloe pernah berdiri sebuah kerajaan yang cukup ternama, yakni Samudra Pasai. Itulah sebabnya dia juga adakalanya disebut Syamsuddin Pasai.

Para sejarawan menisbahkan namanya dengan sebutan Sumatrani ataupun Pasai. Ini mengisyaratkan dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, orang tuanya adalah orang Pasai (Sumatra). Dengan demikian, bisa diduga bahwa ia sendiri dilahirkan dan dibesarkan di Pasai. Jika pun ia tidak lahir di Pasai, maka kemungkinan kedua bahwa sang ulama terkemuka pada zamannya ini telah lama bermukim di Pasai.

Berbicara tentang peranan Samudra Pasai sebagai pusat pengajaran dan pengembangan Islam, Negeri Pasai memang lebih dahulu terkemuka daripada Banda Aceh. Paling tidak Samudera Pasai lebih dulu terkemuka pada kisaran abad ke-14 dan 15 M. Sementara beralihnya tampuk kekuasaan Negeri Pasai kepada Kerajaan Aceh Darussalam baru berlangsung pada tahun 1524. Begitu juga dalam hal kesastraan, Hikayat Raja-raja Pasai lebih tua dibandingkan Gurindam Duabelas Karya Raja Ali Haji Pulau Penyengat,Tanjung Pinang, Bintan, Kepulauan Riau.

Pada masa pemerintahan Sayyid Mukammil (1589-1604), Syamsuddin Assumatrani sudah menjadi orang kepercayaan Sultan Aceh. Sayang ,dalam kitab Bustan al-Salathin sendiri tidak disingkapkan bagaimana perjalanan Syamsuddin sehingga ia menjadi ulama yang paling dipercaya dalam lingkungan istana kerajaan Aceh selama tiga atau empat dasawarsa.

Syamsuddin Assumatrani wafat pada tahun 1039 H/1630 M, dan selama beberapa dasawarsa terakhir dari masa hidupnya dia merupakan tokoh agama terkemuka yang dihormati dan disegani. Dia berada dalam lindungan dan bahkan berhubungan erat dengan penguasa Kerajaan Aceh Darussalam.

Syamsuddin Assumatrani adalah satu dari empat ulama yang paling terkemuka. Dia berpengaruh serta berperan besar dalam sejarah pembentukan dan pengembangan intelektualitas keislaman di Aceh pada kisaran abad ke-l7 dan beberapa dasawarsa sebelumnya. Keempat ulama tersebut adalah Hamzah Fansuri, Syamsuddin Assumatrani, Nuruddin Ar-Raniri, dan Abdur Rauf As-Singkili (1615/20-1693). Mengenai ada tidaknya hubungan antara Syamsuddin Assumatrani dengan ketiga ulama lainnya, ada baiknya disinggung seperlunya.

Mengenai hubungan Hamzah Fansuri dengan Syamsuddin Assumatrani, sejarawan A. Hasjmy cenderung memandang Syamsuddin Assumatrani sebagai murid dari Hamzah Fansuri. Pandangannya ini diperkuat dengan ditemukannya dua karya tulis Syamsuddin Assumatrani yang merupakan ulasan (syarah) terhadap pengajaran Hamzah Fansuri. Kedua karya tulis Syamsuddin Assumatrani itu adalah Syarah Ruba’i Hamzah Fansuri dan Syarah Syair Ikan Tongkol.

Adapun hubungannya dengan Nuruddin ar-Raniri, hal ini tidak diketahui secara pasti. Yang jelas adalah bahwa tujuh tahun setelah Syamsuddin Assumatrani wafat, Raniri memperoleh kedudukan seperti sebelumnya diperoleh Syamsuddin Sumatrani. Dia diangkat menjadi mufti Kerajaan Aceh Darussalam pada tahun 1637 oleh Sultan Iskandar Tsani. Karena fatwanya yang men-zindiq-kan (mengkafirkan) paham wahdatul wujud Syamsuddin Assumatrani, maka para pengikut Hamzah Fansuri dan Syamsuddin Sumatrani dihukum oleh pihak penguasa dengan hukuman bunuh. Bahkan literatur-literatur yang mereka miliki dibakar habis. Pada masa inilah dimulainya kekerasan pertama di Aceh terhadap karya dan pemikiran, Namun demikian, para pengikut paham Assumatrani itu ternyata tidak punah semuanya.

Pada kisaran tahun 1644 saat Safiatuddin menjadi Sultanah, Raniri disingkirkan dari kedudukannya selaku mufti kerajaan Aceh Darussalam. Dia pun terpaksa pulang kampung, ke Ranir, Gujarat. Sebagai penggantinya, Sultanah Tajul Alam Safiatuddin (1641-1675) kemudian mempercayakan jabatan mufti kerajaan kepada Abdurrauf atau Syiah Kuala.

Dari hasil penelitian Prof Dr Azis Dahlan diketahui adanya sejumlah karya tulis yang dinyatakan sebagai bagian, atau berasal dari karangan Syamsuddin Assumatrani, atau disebutkan bahwa Syamsuddin Assumatrani yang mengatakan pengajaran itu. Karya-karya tulis itu sebagian berbahasa Arab, sebagian lagi berbahasa Melayu (Jawi). Di antara karya tulisnya yang dapat dijumpai adalah sebagai berikut:

Jawhar al-Haqa’iq (30 halaman; berbahasa Arab), merupakan karyanya yang paling lengkap yang telah disunting oleh Van Nieuwenhuijze. Kitab ini menyajikan pengajaran tentang martabat tujuh dan jalan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

Risalah Tubayyin Mulahazhat al-Muwahhidin wa al-Mulhidin fi Dzikr Allah (8 balaman; berbahasa Arab). Karya yang telah disunting oleb Van Nieuwenhuijze ini, kendati relatif singkat, cukup penting karena mengandung penjelasan tentang perbedaan pandangan antara kaum yang mulhid dengan yang bukan mulhid.

Mir’at al-Mu’minin (70 halaman; berbahasa Melayu). Karyanya ini menjelaskan ajaran tentang keimanan kepada Allah, para rasul-Nya, kitab-kitab-Nya, para malaikat-Nya, hari akhirat, dan kadar-Nya. Jadi, pengajarannya dalam karya ini membicarakan butir-butir akidah, sejalan dengan paham Ahlus Sunnah wal Jama’ah (tepatnya Asy’ariah-Sanusiah).

Syarah Ruba’i Hamzah Fansuri (24 halaman; berbahasa Melayu). Karya ini merupakan ulasan terhadap 39 bait (156 baris) syair Hamzah Fansuri. Isinya, antara lain, menjelaskan pengertian kesatuan wujud (wahdat al-wujud).

Syarah Sya’ir Ikan Tongkol (20 balaman; berbahasa Melayu). Karya ini merupakan ulasan (syarah) terbadap 48 baris sya’ir Hamzah Fansuri yang mengupas soal Nur Muhammad dan cara untuk mencapai fana di jalan Allah.

Nur al-Daqa’iq (9 halaman berbahasa Arab; 19 halaman berbahasa Melayu). Karya tulis yang sudah ditranskripsi oleh AH. Johns ini (1953) mengandung pembicaraan tentang rahasia ilmu makrifah (martabat tujuh).

Thariq al-Salikin (18 halaman; berbahasa Melayu). Karya ini mengandung penjelasan tentang sejumlah istilah, seperti wujud, ‘adam, haqq, bathil, wajib, mumkin, mumtani’ dan sebagainya.

Mir’at al-Iman atau Kitab Bahr al-Nur (12 halaman; berbahasa Melayu). Karya ini berbicara tentang ma’rifah, martabat tujuh, dan tentang ruh.

Kitab al-Harakah (4 halaman; ada yang berbahasa Arab dan ada pula yang berbahasa Melayu). Karya ini berbicara tentang ma’rifah atau martabat tujuh.

“Beu Seulamat Iman teuh mandum. Berpegang teguhlah dengan agama itu, sebab agama Islamlah yang telah memajukan Aceh dan terkenal ke seluruh dunia Melayu.” Pesan ini disampaikan ketika Syamsuddin Assumatrani ditembak oleh Portugis dalam misi penyerangan kafir Portugis di Malaka, masa Iskandar Muda.Wallahu a’lam.

Copyright @ 2013 Muslim Journey.