Rabu, 21 Agustus 2013

Filled Under:

Menggali Hikmah Ramadhan

Puasa bukan hanya untuk ritual saja, akan tetapi mengandung unsur sosial. Banyak hikmah yang terkandung di dalamnya. Puasa sebagai salah satu sarana pembinaan mental. Dengan menahan lapar dan dahaga, menahan diri dari bersenggama, dan dari yang membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari, berarti telah mengendalikan keinginan hawa nafsu. Kalau sudah mampu mengendalikan hawa nafsu berarti itu sudah kemenangan yang luar biasa. Sebab hawa nafsu inilah yang menjadi pangkal dari malapetaka. Hawa nafsulah yang menyebabkan manusia lupa daratan, terjerumus dalam lembah dosa dan maksiat. Tidak pernah bersyukur dan tidak pernah merasa puas terhadap rezeki yang diperolehnya. Sebagaimana kata Imam Ghozali, orang yang menjadikan standar hidupnya hawa nafsu tak obahnya bagaikan orang minum air laut, semakin diminum semakin haus. Retaknya sebuah rumah tangga, rusaknya pergaulan, semuanya ini berawal dari hawa nafsu yang tidak terkendalikan. Sebab hawa nafsu inilah yang menyebabkan manusia angkuh, sombong, merasa paling benar dan paling sempurna. Tidak mau mengalah, maunya menang sendiri. Demikian juga halnya dengan ambisi yang berlebihan, gila pangkat dan gila hormat. Termasuk juga sifat loba, tamak atau serakah. Semuanya ini berpangkal dari hawa nafsu yang tak terkendalikan. Kalau penyakit loba, tamak dan serakah ini sudah melanda, akibatnya akan menimbulkan bencana yang besar. Suatu bangsa akan hancur kalau penyakit ini sudah melanda. Sebab akan menimbulkan semangat kapitalisme yang kemudian bersifat ekspansionisme, yaitu ingin merebut dan mencaplok milik orang lain. Halal, haram tidak peduli. Yang penting uang bisa didapat, harta bisa terkumpul. Demikianlah kalau penyakit rakus sudah melanda. Bahaya ini pernah dikonstantir oleh Imam Ghozali dengan perkataan: Å´esungguhnya bencana yang paling besar dalam kehidupan ialah nafsu perut¡¦ Tapi kalau hawa nafsu sudah terkendali, maka kebahagiaan akan terwujud. Ketenangan jiwa dan kedamaian hati akan tercapai. Pikiran akan jadi jernih, dan wajah akan berseri. Tidak akan ada lagi resah dan gelisah dalam menghadapi musibah. Tidak akan kedengaran lagi korupsi dan manipulasi, atau kebocoran anggaran Negara. Semua akan berjalan lancar sesuia dengan jalur yang sudah ditentukan. Sebab jiwa akan semakin dewasa dan akan semakin bertambah matang. Pembinaan Keluarga Dengan sama-sama makan sahur dan sama-sama berbuka, kemudian diiringi dengan sama-sama pergi sholat taraweh ke Masjid, itu merupakan suatu sarana dalam pembinaan keluarga yang harmonis. Hubungan antara anak dengan kedua orang tuanya, atau antara suami dengan istri, akan terasa semakin dekat dan semakin akrab. Maka dalam kehidupan zaman modern sekarang ini, peranan puasa Ramadhan semakin dirasakan. Kenapa tidak. Orang yang hidup di abad modern sekarang ini, terutama di kota-kota besar, sibuk dengan berbagai macam pekerjaan dan berpacu dengan waktu. Pergi pagi pulang malam. Berangkat ketika anak masih tidur, dan pulang setelah anak mulai tidur. Demikianlah setiap hari, boleh dikatakan tidak ada komunikasi dengan anak. Hal yang sama juga dialami oleh ibu-ibu wanita karier. Mendidik anak sebagai tugas pokoknya terabaikan. Mendidik anak tidak cukup dengan memberinya makanan dan minuman yang bergizi. Tidak hanya sekedar membelikannya baju baru, uang sekolah dan uang jajan. Tapi yang penting adalah belaian kasih sayang. Maka tidak salah kalau anak-anak lebih dekat kepada pembantu ketimbang ibu atau kedua orang tuanya. Menjalin Ukhuwah Ukhuwah zaman sekarang sudah sedemikian rapuh. Sikap individualistis begitu menonjol. Sudah tidak ada lagi sikap teposeliro. Sikap asah, asih, dan asuh. Semua berjalan sendiri-sendiri, dan mau menang sendiri. Ukhuwah zaman sekarang cenderung kepada materi. Kalau ada yang akan diharapkan dan saling ketergantungan, baru ada ukhuwah. Kalau tidak, maka tidak. Dengan ibadah puasa diharapkan akan lahir jiwa yang tulus dan sifat kebersamaan. Yaitu rasa senasib sepenanggungan, yang dibuhul oleh tali akidah dan ukhuwah. Di mana orang kaya dapat merasakan penderitaan orang miskin yang terkadang makan terkadang tidak. Dikarenakan rasa ukhuwah yang ditimbulkan oleh ibadah puasa ini, diharapkan orang yang kaya hatinya akan tersentuh untuk membantu saudaranya seakidah itu, dengan membagi dan mengeluarkan sebahagian dari kekayaannya. Itu hikmahnya untuk orang kaya. Adapun untuk orang miskin lain lagi. Diharapkan dengan usainya menjalankan ibadah puasa ini keikhlasan dan kesabarannya dalam menghadapi musibah dan penderitaan hidup semakin mantap. Imannya semakin kuat. Kalau sudah dibiasakan dengan niat yang ikhlas dalam menghadapi cobaan demi cobaan, sudah tidak masalah lagi. Bahkan di balik itu di balik penderitaan dan cobaan itu, ada nilai-nilai tertentu yang merupakan kredit point di sisi Allah. Adapun jumlah dan besarnya adalah hanya Allah-lah yang lebih tahu. Melatih Disiplin Salah satu kelemahan umat Islam, ialah kurangnya tingkat disiplin. Baik itu mengenai waktu maupun yang berhubungan dengan kerja. Nampaknya sebahagian umat Islam kurang menghargai waktu. Terkadang waktu dibiarkannya berlalu begitu saja, tanpa kesan dan coretan. Maksudnya tidak ada kegiatan. Menghargai waktu bukan berarti harus bekerja tanpa mengenal waktu untuk istirahat, tidak. Akan tetapi bagaimana membagi dan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Maksudnya kapan harus bekerja, dan kapan pula waktu untuk istirahat. Demikian juga halnya dengan masalah kerja. Sudah menjadi kebiasaan cara kerja yang amburadul. Maksudnya tidak punya perencanaan dan kurang perhitungan. Bekerja seenaknya tanpa mengindahkan aturan main yang sudah diterapkan. Peraturan tinggal peraturan, pelanggaran jalan terus. Demikianlah yang banyak terjadi. Dan di sinilah letaknya kunci kesuksesan orang non muslim. Mereka bekerja dengan perencanaan, dengan perhitungan yang matang dan dengan disiplin yang tinggi. Demikianlah sebahagian kecil dari hikmah puasa Ramadhan kali ini dan banyak lagi yang lain yang belum sempat digali. Mudah-mudahan ada manfaatnya. *** Narasumber: buku Puasa bukan sekedar kewajiban

0 comments:

Posting Komentar

Copyright @ 2013 Muslim Journey.