Benarkah Tuhan Ada?
Tidak semua kita yakin bahwa Tuhan benar-benar ada! Apalagi yakin tentang keberadaan Allah sebagai Tuhan satu-satunya di alam semesta. Kalau pun yakin, biasanya, tingkatnya tidak ‘benar-benar yakin’. Cuma sekadar percaya! Lho, memang apa beda antara ‘yakin’ dengan ‘percaya’? Dan apa pula bedanya Tuhan dengan Allah?
Ada beberapa tingkatan orang ber keyakinan tentang keberadaan Tuhan. Tapi secara garis besar, kita bisa membaginya hanya dalam dua kelompok saja yaitu : mereka yang tidak percaya bahwa Tuhan ada, dan mereka yang mempercayai keberadaanNya. Masing-masing memiliki derajat ketidakpercayaan atau kepercayaan yang berbeda-beda.
1. Tidak percaya bahwa Tuhan ada
Dalam sejarah kemanusiaan, kita mengetahui ada sekelompok orang yang tidak percaya terhadap adanya Tuhan. Mereka sering kita sebut sebagai kelompok Atheis alias orang-orang yang tidak bertuhan.
Mereka terdiri dari berbagai macam golongan masyarakat dan strata kecerdasan. Ada yang mampu secara ekonomi atau sebaliknya. Ada juga yang mampu secara intelektual dan sebaliknya. Sangat menarik untuk memahami bahwa mereka bisa mencapai kesimpulan tentang tidak adanya Tuhan. Lebih jauh, kalau dilihat latar belakangnya, mereka bisa dikelompokkan lagi ke dalam beberapa golongan.
a. Orang yang tidak percaya kepada Tuhan karena kesombongan. Misalnya, mereka merasa tidak perlu bertuhan karena ‘merasa’ bisa mengatasi segala kebutuhannya sendiri.
b. Orang yang tidak percaya kepada Tuhan, karena kebodohan dan ketidakmampuannya. Ini, tentu saja, sangat memprihatinkan. Karena biasanya mereka hanya menjadi korban dari orang-orang yang dianggapnya pintar dan memiliki otoritas tertentu.
c. Orang yang tidak percaya kepada Tuhan, karena malas berpikir dan tidak mau repot karenanya. Bertuhan, menurut mereka malah dianggap sebagai kegiatan yang merepotkan saja. Karena, lantas harus melakukan upacara-upacara tertentu sebagai konsekuensi bertuhan. Jadi lebih baik tidak bertuhan saja.
Namun, pada dasarnya, tidak ada seorang pun yang benar-benar tidak bertuhan. Dulu, kini maupun nanti. Sebab makna bertuhan, sebenarnya adalah menempatkan ‘sesuatu’ menjadi pusat dan tujuan bagi kehidupan seseorang.
Jadi, ketika kita menempatkan ‘kekuasaan’ sebagai ‘pusat dan tujuan’ hidup kita, maka kita sebenarnya telah bertuhan pada kekuasaan. Dan ini terjadi sejak zaman dulu, kini, maupun nanti.
Diantaranya, yang diceritakan di dalam Qur’an adalah Fir’aun dengan kekuasaannya yang besar. Sehingga, dia lantas menuhankan dirinya. Ini adalah contoh dari tipikal orang yang sombong. Dia merasa dirinya mampu mengatasi berbagai macam hal dalam kehidupannya. Bahkan dia menjadi tempat bergantung orang lain. Maka, dia merasa menjadi penguasa atas segala yang ada di sekitarnya. Kekuasaannya telah mendorong dirinya untuk bertuhan kepada dirinya sendiri. Yang kemudian, justru membawanya kepada kehancuran.
Yang semacam Fir’aun ini bukan hanya terjadi pada zaman dulu. Sekarang pun banyak terjadi di berbagai belahan bumi. Sampai kapan pun.
Ketika seorang presiden dari sebuah negara adikuasa menempatkan diri dan negaranya sebagai penguasa tertinggi dalam kehidupan manusia, maka ia sebenarnya telah menempatkan dirinya sebagai Tuhan. Padahal, sebenarnya tidak ada hak sedikit pun bagi seorang manusia, atau kelompok, untuk menguasai orang lain dan kelompok lain. Sungguh, ia telah menjadi Fir’aun, dalam dunia modern.
QS. A’ A’raaf (7) : 54
Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.
Ayat di atas dengan sangat gamblang mengatakan itu. Bahwa menciptakan dan memerintah itu hanyalah hak Allah saja. Sedangkan manusia dengan manusia lainnya cuma saling mengingatkan dan berkoordinasi untuk membentuk kehidupan yang harmonis dan sejahtera, secara adil. Karena, setiap kita memang memiliki derajat yang sama. Tidak boleh ada yang merendahkan dan menghina satu sama lain.
Jadi kembali kepada konsep bertuhan setiap manusia yang telah menempatkan ‘sesuatu’ sebagai pusat orientasi kehidupannya, maka ia telah menciptakan Tuhan dalam kehidupannya.
Itu bisa berupa apa pun. Seseorang bisa bertuhan kepada diri sendiri, pada kekuasaan, pada harta benda, pada wanita cantik, pada kesenangan duniawi, dan berbagai orientasi kehidupan yang mungkin.
Kalau begitu definisinya, maka bisa dipastikan tidak ada orang yang tidak bertuhan di dalam kehidupannya. Persoalannya tinggal, kepada apa atau siapa dia bertuhan … !
Namun demikian, banyak juga orang yang mengatakan tidak bertuhan karena tidak paham dengan definisi ini. Termasuk orang yang sombong tersebut. Mereka tidak mau bertuhan kepada sesuatu di luar dirinya, karena menganggap dirinya sudah cukup bisa mengatasi dan memenuhi berbagai kebutuhan dalam hidupnya. Ya, sebenarnya dia telah bertuhan kepada dirinya sendiri.
Atau ada juga, kelompok lain, yang malas bertuhan karena dianggap merepotkan saja. Maka, dia sudah bertuhan kepada kemalasannya. Atau, orang yang lain lagi, mereka yang tidak berpengetahuan dan lantas ikut-ikutan, maka mereka telah bertuhan kepada orang lain. Atau bahkan bertuhan pada ‘kebodohannya’. Jadi sekali lagi, tidak ada orang yang tidak bertuhan. Karena setiap kita memiliki kepentingan dan orientasi kehidupan yang mendominasi. Dan itulah Tuhan kita…
2. Mereka yang percaya keberadaan Tuhan.
Sementara itu, kelompok yang lain adalah mereka yang mempercayai bahwa Tuhan ada. Tentu saja dengan berbagai alasan dan latar belakangnya. Yang jika dikelompokkan lagi, maka orang-orang yang percaya terhadap keberadaan Tuhan ini pun ada beberapa golongan.
a. Orang yang percaya pada Tuhan karena doktrin. Sejak kecil ia telah didoktrin oleh sekitarnya, termasuk oleh orang tua dan guru-gurunya, bahwa Tuhan memang ada. Meskipun, boleh jadi dia tidak paham alasannya. Atau tidak mengerti maksudnya. Karena banyak orang di sekitarnya percaya Tuhan itu ada, maka ia pun sepantasnya percaya bahwa Tuhan memang ada.
b. Orang yang percaya kepada Tuhan karena logika dan rasio. Akalnya mengatakan Tuhan mesti ada. Inilah orang-orang yang mencari keberadaan Tuhan lewat kecerdasannya. Akalnya, justru tidak bisa menerima jika ada yang mengatakan bahwa Tuhan tidak ada dalam kehidupannya. Karena dia bisa benar-benar ‘melihat’ dan merasakan hadirnya ‘Suatu Kekuasaan Super’ dalam kehidupannya. Dan itulah Tuhan.
c. Orang-orang yang percaya kepada Tuhan karena merasa membutuhkan kehadiranNya. Yang tanpa kehadiranNya, mereka merasa tidak berdaya. Inilah orang-orang yang melakukan pendekatan kepada tuhannya menggunakan Kesadaran Spiritual.
d. Orang-orang yang memperoleh kesimpulan bahwa Tuhan yang ada di alam semesta ini sebenarnya adalah Tuhan Yang Satu. Bukan bermacam-macam seperti yang dianut oleh berbagai agama. Kita harus mencari ‘Siapakah’ sebenarnya Tuhan yang Satu itu. Dimanakah Dia berada. Bagaimanakah Dia. Dan sebagainya. Inilah orang-orang yang menggunakan Kesadaran Tauhidnya untuk mencari eksistensi Ketuhanan. Sang Penguasa Tunggal Jagad Semesta Raya.
Jadi, bagi orang-orang yang percaya terhadap keberadaan Tuhan pun, belum tentu ia telah bertuhan secara benar. Karena, memang latar belakangnya bisa sangat beragam. Setidak-tidaknya mereka memiliki tingkat-tingkat kualitas yang berbeda-beda di dalam mempersepsi dan berinteraksi dengan Tuhannya.
Ketika seseorang hanya ikut-ikutan dalam bertuhan kepada sesuatu yang dianggapnya Tuhan, maka kita patut mempertanyakan apakah ia telah bertuhan secara benar. Apakah ia telah memiliki persepsi yang juga benar tentang Tuhan yang diimajinasikannya. Atau lebih jauh, apakah ia telah berinteraksi secara benar pula dengan Tuhannya itu.
Jika, mereka merasa risau dengan pertanyaan itu, barangkali akan terjadi stimulasi untuk mencari Tuhan. Baik dalam mempersepsi maupun dalam hal berinteraksi. Jika ini yang terjadi, maka kualitas bertuhan orang itu akan meningkat. Ia mulai berpikir dan menggunakan akalnya untuk mempersepsi Tuhan dan melakukan kontak-kontak denganNya.
Pada tingkatan yang lebih tinggi, orang yang sudah percaya pada keberadaan Tuhan akan menemukan sosok Tuhan yang dia butuhkan. Pada tingkat ini ia akan melakukan interaksi lebih intensif. Apalagi, jika interaksi itu telah terasa terjadi dalam 2 arah: dialogis. Maka, ia telah menemukan Tuhannya!
Puncaknya, orang yang demikian ini akan bertemu dengan Tuhan yang Satu. Dialah Tuhan yang menguasai segala yang ada di dalam semesta. Tuhan yang menciptakan sekaligus memelihara. Tuhan yang Maha mengasihi, Maha Menyayangi. Tuhan yang Penuh Kesempumaan dalam eksistensiNya…
Jadi, pada bagian ini, kita boleh membuat kesimpulan sementara bahwa Tuhan adalah sesuatu yang pasti ada dalam kehidupan seseorang. Tidak mungkin seseorang tidak bertuhan. Tinggal, kepada apa dan kepada siapakah seseorang itu bertuhan.
***
Dari Sahabat